058aa4e5a8875f7e69ad1c9086d0e39d.jpg


“But I never seen nobody shine the way you do, the way you walk, way you talk, way you say my name. It’s beautiful, wonderful, don’t you ever change.” – Hey Stephen, Taylor Swift.


KALAU ada lomba kenal sama banyak orang, sudah pasti Audrey akan kalah dari Nika yang menyapa dan disapa semua orang yang berpapasan dengan mereka ketika membuat konten wawancara dengan mahasiswa TPB FSRD. Sungguh, Audrey kagum dengan energi yang Nika punya.

“Nika emang kenal sama semua orang, ya?” Audrey membisik ke arah Aksara.

“Dia yang punya FSRD.” Jawab Aksara sambil menutup lensa kameranya. Lensa yang pernah hilang lalu ditemukan oleh Nika, yang sekarang menjadi senjata Nika untuk menyeret Aksara dalam satu proyek bersama Audrey, sesuatu yang selalu Aksara hindari karena dia sudah lelah berhubungan dengan Audrey.

“Cik urang tingali heula footage na.” Nika menggeser tubuhnya ke samping Aksara yang jauh lebih tinggi darinya. (Coba sini gue lihat dulu hasil rekamannya)

Alis Nika mengerut, namun kadang-kadang dia menarik senyum ketika melihat LCD screen  sambil membenarkan kacamatanya yang menurun dari hidungnya yang mungil, “Kalau yang Audrey sendiri mana, Sa?” tanya Nika, Aksara mencari potongan rekamannya secepat kilat, “Hmm… menurut lo apa yang kurang?”

“Udah oke. Ekspresinya juga nggak sekaku yang pertama tadi,” jawab Aksara singkat.

“Kalau Audrey mana ada kurangnya, ya, Sa?” Nika meledek sambil cengengesan, “Drey, kata gue nih, ya… mending lo jadi model, deh. Berbakat banget gue liat, luwes gitu, lho. Iya nggak, Sa?”

Audrey hanya terkekeh kecil.

Nika berdecak sambil menyenggol lengan Aksara, “Ya, ‘kan, Sa?” Pandangan Nika lurus pada Audrey yang kini berdiri di hadapannya, sementara Aksara hanya diam tanpa kata, “Haduh, ampun DJ! Aksara, mah, gengsinya selangit euy, Drey.”

Sementara Aksara malah menjauhkan diri dari Nika.

“Lagu lama,” Audrey berdecak singkat.

“Emang, tuh…” Nika mencibir, “Anyway, thank you berat, yaaaa, Audrey, udah mau bantu Divisi Publikasi,” Nika menyampirkan tas di bahu kirinya lalu merangkul Audrey sambil berjalan menghampiri Aksara yang tengah sibuk merapikan kameranya.

“Santai, gue senang kok bisa terlibat langsung buat fakultas gue sendiri,” Audrey tersenyum simpul, “Hidup juga akan lebih berarti kalau bisa bermanfaat untuk orang lain. Udah seharusnya juga mansia saling tolong menolong, ya nggak, sih?”

“Sekarang gue makin paham kenapa anak-anak TPB, Wali, sampai Tatib pada ngincer lo,” Nika terkekeh, kepalanya tergeleng bangga sambil bersedekap dada, “Lo tuh emang idaman semua insan, sih. Kalau gue cowok, gue juga udah pasti ngantre.”

“Itu lo dapat gosip dari mana, sih?” Dahi Audrey mengerut, “Juru kamera lo aja udah matahin argumen lo barusan,” Audrey menyelipkan tawa kecil di sana.

“Aksara nggak dihitung. Liat, tuh, sayangnya cuma sama kamera aja,” Nika menepiskan tangannya, mengabaikan Aksara yang masih jatuh membisu dan sibuk dengan kameranya, “Dia alergi cewek, juga bukan manusia.”