I’m so obsessed with him but he avoids me like a plague. –I Can Do It With a Broken Heart by Taylor Swift.
GEDUNG TPB FSRD ramai dan padat. Tentu saja, hari ini adalah hari dimana mereka mengadakan cosplay. Tapi, Joshua si Ketua Angkatan lebih suka menyebutnya dengan hajatan.
Terang saja, karena memang akan ada pernikahan. Berdasarkan hasil forum diskusi dengan satu angkatan, Audrey dan Jovan yang akan menjadi pasangan untuk menikah hari ini.
Audrey tahu, Aksara menolak keras meski seluruh telunjuk mengarah padanya untuk berperan sebagai pengantin pria di acara cosplay ini. Namun, sejatinya Aksara hanya lah benci dan muak dengan Audrey hingga dia harus mencari-cari alasan agar membelokkan seluruh jari yang mengarah padanya. Diskusi selesai.
Audrey melangkah tergopoh-gopoh dengan tangan yang penuh dengan jinjingan tas kertas ketika dirinya mendaki studio di lantai empat.
Pemandangan studio begitu gaduh, seluruh mahasiswa tampak mempersiapkan perannya dengan maksimal.
Pandangan Audrey jatuh pada Frida yang tengah berkutat serius di depan kaca, Audrey menghampiri Frida yang tengah menggambar kumis di wajahnya.
“Frida!” Audrey menyeru tiba-tiba.
“Aduh!” Frida berdiri tegak dan menghadap ke arah Audrey, “Lo mau berkontribusi biar penyakit turunan keluarga gue datang lebih cepat atau gimana, sih?!”
“Ngomong apa, sih, lo? Penyakit turunan apa?!” Audrey mengerutkan alisnya ketika dia menaruh tas jinjingnya di atas meja studio.
“Penyakit jantung warisan keluarga gue.” jelas Frida, “Alias gue kaget, anjrit!” Frida menghela napas dan kembali menghias wajahnya dengan eyelineruntuk menggambar kumis.
Audrey terkekeh, sambil menyeka peluh hasil kardionya pagi ini, dia memperhatikan Frida, “Lo benar jadi juru masak?”
Frida mengiyakan dengan gumamannya, kemudian dia menoleh ke arah Audrey, “Bukan damkar, bukan sihir, tapi…” kemudian Frida menunjuk tulisan PEMADAM KELAPARAN yang tertulis jelas di topi kokinya, “Lo bayangin, nih, ya… kalau juru masak nggak ada di hajatan, mau selamatin lambung lo yang demo gimana?!”
“Kamu bisa masak, Frid?” Khaira tiba-tiba menimbrung, dia menempatkan diri di meja yang sama, duduk di sebrang Audrey.
“Bisa. Tapi, kayaknya gue lebih jago ngerecokin Ibu masak, deh.” Guraunya sambil membenarkan topi koki yang penuh dengan lukisan meriah. “Kalau lo? Apa judul lo hari ini, Khai? Mandor?” tanyanya ketika jatuh memandang pelindung kepala putih yang dipakai Khaira.
“Jadi pawang hujan,” jawab Khaira, dia mengeluarkan mangkuk emas lalu mengangkat tinggi-tinggi sambil memejamkan matanya, “Buat bantuin memperlancar acara hajatan, tinggal tanam cabai sama tomat aja.”
Frida menggeser dirinya mendekat ke arah Audrey, dia berlagak membereskan barang-barangnya di atas meja, kemudian duduk berbisik pada Audrey, “Gue kira lo doang yang aneh karena suka ibadah lagu-lagu Taylor Swift, ternyata si Khaira lebih perlu diobatin.”
“Tapi, yang ini kayaknya bahaya, soalnya nggak ada obat.” Audrey menahan tawanya.
“Hey, Audrey!” Panggil seseorang yang membuat Audrey menoleh ke sumber suara, “Kok belum siap-siapnya kau? Ayo, cepatnya. Aku jadi MUA kau hari ini,” dengan suara yang tarik, orang itu mendorong Audrey ke sudut studio, menuju meja yang penuh dengan alat rias, Audrey bahkan tidak bisa menyebutkan nama dari setiap barang di sana satu persatu.