“For you I would fall from grace just to touch your face, if you walk away, I’d beg you on my knees to stay” –Don’t Blame Me by Taylor Swift.
“AKSARA?” Audrey mengerutkan keningnya, campuran terkejut dan keheranan, “Ngapain ke sini? Kok bisa ke sini?”
Yang dipanggil masih mengunci pandangannya pada Renjana, tidak memedulikan Audrey yang dipenuhi tanda tanya.
Rasa penasaran yang menguasai Audrey lenyap seketika Aksara mengangkat suara.
“Bunda,” panggilnya. Singkat dan datar.
SORRY? WHAT? IBU JANA IS HIS MOM?! Batin Audrey berteriak, namun hanya dapat membuka rahangnya lebar-lebar sekarang.
“Itu jawaban dari semua pertanyaanmu tadi,” Renjana melirik sejenak ke arah Aksara, lalu kembali menatap Audrey, “Kenalnya kau?” Nada bicaranya terdengar berlawanan dengan Audrey yang sudah nyaris meledak karena terkejut.
Sementara, Aksara merasa aneh ketika melihat Bundanya duduk manis dengan gadis yang paling Aksara hindari. Tidak pernah terbesit di dalam pikirannya untuk melihat Bunda dan Audrey justru saling bertukar cerita, bahkan Bundanya sudi untuk menemaninya makan.
Never in a million years.
Aksara melangkah menghampiri Bundanya, “Sebenarnya ada apa, Bunda?”
Renjana bangkit dari duduknya dan menghampiri Aksara, “Kau bicara dulu dengan Audrey,” bisiknya, kemudian wanita paruh baya itu menoleh ke arah gadis itu, “Aku keluar dulu, ya. Kuracikkan obat dulu untukmu.” Tanpa menunggu persetujuan keduanya, Renjana meninggalkan ruangan.
“Terima kasih, Bunda.” Audrey cengengesan, “Halo, Aksara! Berubah pikiran, ya? Mau ngobrol lagi sama gue?” Tangan Audrey yang masih menggenggam garpu melambai ke arah Aksara, matanya menyipit dan dia terkekeh jahil.
Aksara mendengus, “Gue ke sini karena Bunda gue.” Tegasnya.
“Tapi, Bunda bilang soal gue, ‘kan?” Audrey masih melemparkan senyuman jahilnya pada Aksara yang hanya menatapnya malas.
“What make you think you can call my mom by that?” Aksara menukas.
Audrey memutar bola matanya sambil tersenyum, “Aduh, Aksara… ini, tuh, namanya simulasi jadi pacar lo nanti.” Audrey tertawa renyah, sekarang sibuk memakan apel dan pir yang ada di piringnya.
Aksara tertawa sinis dan remeh, “Gue saranin CT Scan, deh. Kayaknya saraf otak lo ada yang rusak,”
“Lalu, kenapa lo ke sini?” Audrey melirik Aksara curiga.